Pemandangan sinematik tradisi Seren Taun di Cigugur, Kuningan, menampilkan iring-iringan masyarakat adat Sunda Wiwitan membawa hasil bumi di tengah suasana sakral dan meriah.Ilustrasi

KUNINGAN – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan, terus memegang teguh tradisi warisan leluhur yang telah berusia ratusan tahun: Seren Taun. Tradisi ini bukan hanya seremonial panen, tetapi juga menjadi refleksi spiritual, sosial, budaya, dan bahkan politik identitas masyarakat agraris Sunda.

Asal-Usul dan Makna Filosofis Seren Taun

“Seren” dalam bahasa Sunda berarti “menyerahkan”, dan “taun” berarti tahun atau masa panen. Seren Taun merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat adat kepada Sang Hyang Kersa (Tuhan Yang Maha Esa) atas hasil panen yang diperoleh selama setahun. Hasil bumi terbaik, terutama padi, dipersembahkan secara simbolis kepada pimpinan adat sebagai perwakilan leluhur dan wujud pengabdian pada alam semesta.

Di Cigugur, Seren Taun dilaksanakan oleh komunitas adat Sunda Wiwitan yang bernaung di bawah lembaga Paseban Tri Panca Tunggal, yang dipimpin oleh Abah Ugi Suganda. Ia adalah penerus garis keturunan spiritual dari Kanjeng Pangeran Madrais, tokoh kharismatik abad ke-19 yang dikenal karena ajaran-ajarannya yang mengedepankan perdamaian, keberagaman, dan keteguhan terhadap kepercayaan leluhur.

Kapan dan Mengapa Tradisi Ini Dimulai?

Walau tidak ada catatan resmi yang mencatat tahun pasti dimulainya Seren Taun, sejarah lisan dan penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sunda, jauh sebelum kedatangan kolonialisme.

Untuk wilayah Cigugur, bentuk Seren Taun yang sekarang dijalankan mulai terstruktur sejak awal abad ke-20 melalui kepemimpinan Kanjeng Pangeran Madrais. Artinya, tradisi ini telah hidup secara turun-temurun di Cigugur selama lebih dari satu abad.

Adapun pemicu utama Seren Taun adalah dua hal:

  1. Syukur atas Panen – sebagai bentuk pengakuan spiritual terhadap karunia alam, terutama padi sebagai simbol kehidupan.
  2. Perlawanan Budaya – sebagai bentuk keteguhan masyarakat adat dalam mempertahankan jati diri, terutama saat menghadapi tekanan kolonialisme dan asimilasi kepercayaan.

Rangkaian Prosesi Adat yang Sakral dan Meriah

Prosesi Seren Taun dimulai dari pemilihan dan pengumpulan padi unggul dari ladang-ladang masyarakat adat. Padi ini kemudian disimpan dalam leuit (lumbung padi) khusus, dan pada puncak acara, diarak menuju lokasi utama upacara, yakni Paseban Tri Panca Tunggal.

Prosesi biasanya diawali dengan arak-arakan hasil bumi yang diiringi oleh musik tradisional angklung buhun dan tarian adat. Dalam suasana khidmat, para tetua adat memanjatkan doa-doa dan mantra-mantra Sunda Kuno, menghubungkan manusia dengan kekuatan alam dan spiritual leluhur.

Rangkaian prosesi lain yang menyertainya antara lain:

  • Ngadiukeun: Penyimpanan padi dalam leuit sebagai lambang keberlimpahan dan kesucian pangan.
  • Kirab budaya: Partisipasi lintas komunitas membawa hasil bumi dan simbol-simbol adat.
  • Tari penyambutan dan tarian kolosal: Pertunjukan budaya yang melibatkan warga dan pelajar.
  • Hiburan rakyat: Seperti wayang golek, longser, serta bazar makanan tradisional.

Perlawanan Budaya dan Simbol Ketahanan Identitas

Pada masa kolonial Belanda dan Jepang, komunitas Sunda Wiwitan kerap ditekan dan dilarang menjalankan ritual keagamaannya. Namun lewat Seren Taun, masyarakat adat tetap menjaga eksistensinya sebagai bentuk perlawanan budaya non-kekerasan. Pangeran Madrais bahkan sempat dipenjara karena ajarannya yang dianggap “melawan pemerintah”, meskipun sesungguhnya ia menyuarakan kemandirian spiritual dan sosial masyarakat desa.

Pasca kemerdekaan, komunitas Cigugur pun sempat mengalami marginalisasi karena perbedaan kepercayaan. Namun sejak era reformasi, ruang ekspresi kembali terbuka. Seren Taun pun bangkit sebagai ruang afirmasi budaya lokal, bahkan menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Kuningan dan destinasi wisata budaya Jawa Barat.

Ruang Edukasi, Toleransi, dan Pariwisata Budaya

Seren Taun juga menjadi sarana edukasi yang luar biasa, terutama bagi generasi muda. Sekolah-sekolah, mahasiswa, hingga peneliti budaya kerap hadir menyaksikan langsung bagaimana nilai-nilai kearifan lokal diwariskan tanpa terputus.

Tokoh nasional, pejabat lintas agama, akademisi, dan wisatawan domestik maupun mancanegara pun hadir, menjadikan Seren Taun sebagai panggung dialog budaya dan religi yang toleran. Sultan HB X, Dirjen Kebudayaan, dan tokoh-tokoh publik lainnya pernah tercatat hadir dalam prosesi ini.

Seiring waktu, Seren Taun pun makin dikenal sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya takbenda Indonesia. Komunitas adat terus mendorong agar tradisi ini diakui secara nasional sebagai bagian dari identitas sejarah dan kebudayaan bangsa.

Penutup: Tradisi yang Tak Hanya Dipertahankan, Tapi Dihidupkan

Seren Taun Cigugur bukanlah ritual masa lalu yang sekadar dilestarikan secara simbolis. Ia adalah identitas yang dihidupkan, napas kebudayaan yang tetap relevan di era digital. Di saat sebagian besar masyarakat urban kian menjauh dari akar tradisinya, Seren Taun menunjukkan bahwa kearifan lokal justru menjadi jalan spiritual dan ekologis yang kuat untuk menyongsong masa depan.

“Tradisi ini bukan untuk dilihat saja, tapi untuk direnungi, dihargai, dan dijaga. Karena di sinilah jiwa kita sebagai bangsa berada,” ungkap seorang tetua adat Cigugur.

Dengan dukungan berbagai pihak dan semangat lintas generasi, Seren Taun akan terus bergema—menjadi penanda bahwa budaya tidak akan mati selama ada yang mencintainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *