INTERNASIONAL – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target strategis di Iran, Jumat (13/6/2025) dini hari waktu setempat. Serangan ini menyasar instalasi nuklir, pangkalan militer, dan tokoh penting di tubuh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), termasuk Jenderal Hossein Salami dan Mohammad Bagheri.
Serangan tersebut merupakan respons Israel atas meningkatnya kekhawatiran terhadap program nuklir Iran yang dinilai semakin dekat ke tahap pengayaan uranium tingkat senjata. Dalam laporan yang dirilis The Guardian, sejumlah sumber menyebutkan bahwa beberapa pangkalan militer dan laboratorium teknologi nuklir menjadi sasaran utama.
Israel mengklaim bahwa aksi ini merupakan bagian dari upaya pre-emptive untuk mencegah ancaman keamanan nasional yang semakin nyata. Pemerintah Iran sendiri menyebut serangan ini sebagai tindakan agresi dan pelanggaran hukum internasional, seraya mengancam akan membalas dengan kekuatan penuh.
Harga Minyak Melonjak, Pasar Global Bergejolak
Dampak langsung dari eskalasi ini terasa di berbagai sektor. Harga minyak mentah global tercatat melonjak hingga 10 persen dalam waktu singkat, akibat kekhawatiran terganggunya jalur distribusi energi di kawasan Teluk. Pasar saham AS juga mengalami tekanan signifikan, dengan indeks futures terkoreksi hingga hampir 2 persen.
Dalam laporan MarketWatch, para analis menyebut serangan ini memicu pelarian aset menuju safe haven seperti dolar AS, emas, dan yen Jepang.
Bitcoin Terseret Turun, Kripto Kehilangan Daya Tarik Sementara
Krisis di Timur Tengah tak hanya berdampak pada sektor energi dan saham, tetapi juga mengguncang pasar kripto global. Bitcoin (BTC) tercatat turun sekitar 3–4 persen dalam 24 jam terakhir, dari posisi tertingginya di atas $108.000 ke kisaran $104.000.
Menurut laporan Reuters, gejolak geopolitik memicu migrasi dana dari aset berisiko seperti kripto ke instrumen yang lebih stabil. Sementara itu, platform pelacakan data pasar Coinglass mencatat terjadi likuidasi aset kripto sebesar lebih dari US$1 miliar dalam kurun waktu sehari setelah serangan Israel.
Para analis kripto memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan akan menambah volatilitas, serta memperkuat sentimen bearish jangka pendek terhadap Bitcoin dan altcoin lainnya seperti Ethereum dan Solana.
Analis: Potensi Inflasi Global, Bank Sentral Bisa Reaktif
Tak sedikit ekonom yang menilai bahwa lonjakan harga energi akibat konflik ini dapat memicu tekanan inflasi global, terutama di negara-negara importir minyak. Hal ini bisa membuat bank sentral di berbagai negara mengambil langkah pengetatan moneter yang lebih agresif, dan itu artinya tekanan lanjutan pada pasar keuangan, termasuk kripto.
Sebagian investor institusional bahkan mempertimbangkan untuk menempatkan kembali portofolio mereka ke aset yang dianggap aman, menjadikan Bitcoin sementara waktu kehilangan daya tariknya sebagai lindung nilai alternatif.

