Ilustrasi asal usul nama hari dari budaya Romawi, Arab, Babilonia, dan Nordik

Pernahkah kamu bertanya, apa asal usul nama hari seperti Senin, Selasa, hingga Minggu? Kata-kata ini kita ucapkan setiap hari, tapi ternyata memiliki sejarah panjang lintas peradaban—dari Babilonia, Romawi, bangsa Nordik, hingga Arab dan Islam.

Asal Usul Nama Hari Berdasarkan Dewa dan Planet

Sekitar 2000 tahun lalu, bangsa Babilonia memperkenalkan sistem kalender tujuh hari berdasarkan benda langit yang terlihat dengan mata telanjang: Matahari, Bulan, Mars, Merkurius, Yupiter, Venus, dan Saturnus.

Tradisi ini diadopsi bangsa Romawi, yang menamakan hari-hari berdasarkan dewa mereka:

  • Sunday (Minggu)Dies Solis (Hari Matahari)
  • Monday (Senin)Dies Lunae (Hari Bulan)
  • Tuesday (Selasa)Dies Martis (Hari Mars)
  • Wednesday (Rabu)Dies Mercurii (Hari Merkurius)
  • Thursday (Kamis)Dies Iovis (Hari Yupiter)
  • Friday (Jumat)Dies Veneris (Hari Venus)
  • Saturday (Sabtu)Dies Saturni (Hari Saturnus)

Di Eropa utara, nama-nama ini disesuaikan dengan mitologi lokal:

  • TuesdayTiw’s Day (dewa perang Jermanik)
  • ThursdayThor’s Day (dewa petir)
  • FridayFrigg’s Day (dewi cinta)

Sumber: Encyclopedia Britannica – Week | Timekeeping

Asal Usul Nama Hari dalam Bahasa Arab dan Islam

Nama hari di Indonesia berasal dari bahasa Arab, dibawa oleh pengaruh Islam sejak abad ke-13. Nama-nama tersebut mencerminkan urutan angka:

HariBahasa ArabArti
Minggual-Aḥad (الأحد)Hari pertama
Seninal-Ithnayn (الاثنين)Hari kedua
Selasaath-Thulāthāʼ (الثلاثاء)Hari ketiga
Rabual-Arba‘āʼ (الأربعاء)Hari keempat
Kamisal-Khamīs (الخميس)Hari kelima
Jumatal-Jum‘ah (الجمعة)Hari berkumpul
Sabtuas-Sabt (السبت)Hari istirahat

Nama-nama ini diserap dalam bahasa Indonesia dengan pelafalan lokal.

💡 Sumber: Al-Mawrid Arabic-English Dictionary, Lisan al-Arab, KBBI

Tidak Ada Penemu Tunggal Nama Hari

Nama-nama hari adalah hasil warisan budaya yang diturunkan dan disesuaikan dari berbagai peradaban: Babilonia, Romawi, Nordik, hingga Arab. Tidak ada penemu tunggal, tapi ada jejak sejarah yang berlapis yang membentuk sistem waktu yang kita pakai hari ini.

Baca juga: Makna Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah

Pengaruh Nama Hari dalam Budaya Populer

Menariknya, meskipun asal-usul nama hari berakar pada budaya kuno dan kepercayaan religius, pengaruhnya tetap terasa hingga hari ini dalam budaya populer modern.

Contohnya, hari Friday (Jumat) sering dianggap sebagai hari yang menyenangkan dan santai, terutama di dunia barat karena mendekati akhir pekan. Hal ini tercermin dalam frasa populer seperti “Thank God It’s Friday” (TGIF), yang menggambarkan perasaan lega setelah melewati minggu kerja.

Di sisi lain, Monday (Senin) seringkali dikaitkan dengan suasana hati yang kurang bersemangat atau “Monday Blues”, karena menandai awal pekan kerja atau sekolah.

Dalam budaya Indonesia pun, hari Jumat memiliki tempat istimewa. Selain menjadi hari ibadah bagi umat Islam, banyak sekolah dan kantor menerapkan jam kerja yang lebih pendek. Sementara itu, hari Sabtu dan Minggu digunakan untuk aktivitas keluarga dan rekreasi, yang secara tidak langsung menunjukkan bagaimana sistem hari yang diwarisi dari ribuan tahun lalu masih membentuk pola hidup modern.


Perbandingan dengan Sistem Hari di Budaya Lain

Meskipun sistem tujuh hari telah menjadi standar global, beberapa budaya tradisional memiliki cara unik dalam menghitung waktu.

Sebagai contoh, suku Maya di Amerika Tengah kuno menggunakan sistem kalender yang berbeda, dikenal sebagai Tzolk’in, yang terdiri dari 20 nama hari yang berputar dalam siklus 13 angka — sangat berbeda dari sistem 7 hari.

Di Bali, terdapat kalender Pawukon, yang menggunakan siklus 210 hari dan memiliki pembagian waktu yang sangat rumit, termasuk pembagian 5 hari (Pancawara) dan 7 hari (Saptawara), yang digunakan bersamaan. Dalam sistem ini, kombinasi hari-hari menghasilkan makna spiritual dan astrologi yang memengaruhi kegiatan adat dan ritual keagamaan.

Kesimpulan: Hari-Hari yang Kita Ucapkan, Adalah Warisan Peradaban

Dengan memahami asal usul nama hari, kita jadi menyadari bahwa waktu yang kita kenal hari ini bukan hanya sistem praktis — melainkan hasil dari ribuan tahun adaptasi budaya, astronomi, dan agama. Dari Babilonia ke Roma, dari kitab-kitab Arab ke kamus KBBI, nama-nama hari yang terdengar biasa ternyata menyimpan cerita panjang dan mendalam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Siapa penemu nama-nama hari?
Tidak ada satu orang penemu. Nama-nama hari adalah hasil warisan berbagai budaya kuno seperti Babilonia, Romawi, Nordik, dan Arab.

2. Mengapa hari Minggu disebut Ahad dalam Islam?
Karena dalam bahasa Arab, “Al-Ahad” artinya hari pertama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *